ISLAM NUSANTARA SEBAGAI EPISTEMOLOGI SOSIAL NARASI LOKALITAS, MODERASI, DAN REINTERPRETASI WARISAN ISLAM DI INDONESIA
Abstract
Islam Nusantara bukan sekadar label budaya, melainkan konstruksi epistemologis yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam universal dengan realitas sosial dan sejarah Indonesia. Sebagai epistemologi sosial, ia mencerminkan cara umat Islam Indonesia memahami dan mengekspresikan ajaran Islam dalam konteks pluralisme dan keberagaman budaya. Islam dipahami bukan sebagai doktrin kaku, tetapi sebagai sistem pengetahuan dan praktik sosial yang adaptif, inklusif, serta menghargai kearifan lokal. Konsep ini berdiri di atas tiga pilar utama: narasi lokal, prinsip moderasi (wasathiyah), dan reinterpretasi warisan Islam klasik. Narasi lokal menunjukkan bagaimana Islam berakar dan berdialog dengan tradisi masyarakat Nusantara; prinsip moderasi menjadi dasar bagi sikap toleran dan anti-ekstremisme; sementara reinterpretasi warisan klasik memungkinkan pembaruan pemikiran Islam agar tetap relevan dengan zaman. Dengan pendekatan historis, filosofis, dan sosiologis, Islam Nusantara tampil sebagai paradigma keilmuan yang memadukan spiritualitas, etika, dan modernitas. Ia menawarkan model keberislaman yang damai, progresif, dan transformatif—membangun citra Islam yang mampu menjawab tantangan global tanpa kehilangan autentisitas dan kedalaman spiritualnya.







